Kamis, 01 Januari 2009
Teknologi Pendidikan
English Here
Tata letak Tidak Bagus
Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi adalah mempersiapkan siswa untuk mengahadapi tantangan-tantangan dalam masyarakat sangat cepat perubahannya. Sala satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu. Kemampuan berbicara dalam bahasa asing dan kemahiran komputer merupakan dua kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia ( dan di seluruh dunia ). Mengingat sekitar 20-30 % dari lulusan SMU di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita.
Biaya yang dibutuhkan untuk mempersiapkan belajar komputer di sekolah akan mahal.
* Bagaimana pemerintah akan mampu membiayai pembangunan ini ?
* Memberikan apa yang dibutuhkan, bagaimana pemerintah dapat mengelak untuk tidak membiayai pembangunan ini ?
* Apakah pemerintah harus membiayai secara penuh untuk pembangunan ini ?
Dalam menghadapi masalah ini beberapa sekolah swasta dan negeri yang telah mengambil langkah maju. Pada beberapa sekolah mereka telah membangun hubungan yang sangat erat dengan masyarakat setempat dan melakukan sebuah lompatan yaitu dengan mengundang para masyarakat penyumbang untuk membangun fasilitas dasar komputer. Sekolah ini telah membuktikan bagaimana mengatasi salah satu masalah terbesar dalam pengenalan teknologi ke sekolah-sekolah di Indonesia secara berkesinambungan. Keefektifan system yang berkesinambungan ini sudah tumbuh lama ketika masyarakat setempat memahami bagaimana pentingnya teknologi bagi anak-anak mereka. Dalam hal ini kami telah mempelajari bahwa, sekolah-sekolah yang bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk membangun fasilitas cenderung berkembang secara teratur dan juga meningkatkan dukungan dari masyarakat setempat.
Kesinambungan adalah faktor utama. Pada program di masa lalu untuk menyediakan teknologi ke sekolah kebanyakan mencapai sedikit sukses dalam jangka waktu yang cukup lama dan jarang sekali menunjukkan perkembangan. Persyaratan mengenai laboratorium bahasa adalah contoh yang umum. Biasanya ada enam masalah utama, yaitu ;
* Anggaran untuk perawatan fasilitas awal tidak tersedia.
* Pelatihan biasanya terlalu spesifik dan tidak berhubungan dengan kebutuhan di lapangan atau perubahan sikap.
* Tidak tersedianya karyawan untuk perawatan rutin dan pengembangannya.
* Tidak tersedianya teknisi ahli atau terlalu mahal
* Materi yang sesuai untuk mengajar tidak tersedia
* Lemahnya kondisi kerja guru di lapangan mendorong bahwa mereka tidak dapat membagi waktu untuk mengembangkan materi mengajar secara kreatif.
Masalah-masalah ini menjadi lebih luas dalam hal komputer karena tingkat keahlian yang diminta untuk mengembangkan dan merawat fasilitas tersebut sangat tinggi serta kemahiran komputer mempunyai nilai jual yang sangat tinggi pula. Saran untuk memberi pelatihan karyawan di sekolah tidak berlaku dalam konteks yang ada saat ini. Karena siapa saja yang mengembangkan diri untuk mencapai posisi tingkat ahli, mereka di sektor komersil dapat menghasilkan sepuluh kali lipat dari apa yang mereka dapat di sekolah, jadi mungkin saja mereka akan menghabiskan waktu dengan pekerjaan dari luar kantor (hal ini juga menjadi masalah pada karyawan yang memiliki kemampuan di bidang jasa umum).
Bagaimana caranya di beberapa sekolah berhasil membeli komputer, yang mahal dan memerlukan biaya perawatan yang cukup tinggi?
Hanya sedikit sekolah yang berlokasi dilingkungan yang makmur, di mana kelompok orang tua-guru dapat mencapai sejumlah besar uang secara mudah. Walaupun begitu beberapa sekolah yang lain berada di tengah lingkungan di mana tingkat social-ekonominya rendah, tetapi mereka juga berhasil mencapai tingkat yang sama dalam hal pencapaian di bidang pengembangan komputer dan fasilitas lain di lingkungan sekolah mereka. Dua contohnya yaitu SMUN 2 Wonosari di Daerah Istimewa Yogyakarta dan SMUN 23 di Bandung, Jawa Barat. Pendekatan awal yang dilakukan mereka terhadap pengembangan sekolah adalah serupa tapi tak sama. Keduanya menyusun kerberhasilan mereka dengan cara kooperatif dan bekerjasama dengan masyarakat setempat. Walaupun demikian SMUN 2 di Wonosari bergantung kepada penentuan dan pengembangan dari para karyawan itu sendiri. Sedangkan SMUN 23 di Bandung berinisiatif menentukan programnya melalui peranan enterprenur dan mendapatkan sumbangan dari masyarakat dan industri.
Tanpa mengindahkan cara pendekatan yang di tetapkan, sekolah anda dapat memutuskan untuk mengambil beberapa butir penting, yaitu sekolah harus benar-benar obyektif, berkomunikasi pro-aktif terhadap tujuan tersebut, menguntungkan masyarakat setempat dan harus terbuka serta 100 % transparan. Hal ini penting sekali bahwa pengembangan harus direncanakan dengan seksama sehingga meningkatkan kwalitas lulusan pendidikan bagi siswa dapat secara mudah dibicarakan dengan masyarakat. Akan mengherankan sekali jika melihat berapa jumlah dukungan ekstra yang akan dicapai dari masyarakat apabila dibangun suatu "kepercayaan" dan mereka "memahami" akan keuntungannya bagi anak-anak mereka.
Peralatan - perangkat keras apa saja yang diperlukan?
Peraturan yang ada sekarang ini, membatasi jumlah maksimum per kelas untuk 48 siswa. Sementara itu untuk kebutuhan ideal tersebut diperlukan 48 komputer, hal ini menjadi target yang tidak realistis bagi semua sekolah di Indonesia saat ini. Beberapa sekolah telah menunjukkan kepada kami bahwa mereka memulai keberhasilan program ekstra-kurikuler sekolahnya hanya dengan jumlah komputer yang terbatas, melalui penjadwalan ketat. Penulis percaya bahwa target realistis terdekat dalam pertengahan waktu adalah menjadi 24 komputer. Pada kenyataannya hampir seluruh kelas berisi di bawah 48 siswa jadi angka perbandingan bagi siswa terhadap komputer tidak lebih dari 2 :1. Berbagi komputer selama masa awal tahap pelatihan komputer dapat memberikan keuntungan untuk membantu membangun rasa percaya diri dan juga memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih mahir, sehingga mereka dapat membantu siswa yang lemah (meningkatkan efisiensi guru). Hal ini bukan berarti sekarang anda harus membeli 24 komputer. Anda bisa memulai program dasar ekstra-kurikuler hanya dengan 2 komputer. Yang terpenting adalah anda memiliki rencana, membuat pengaturan untuk melatih dan memepersiapkan karyawan anda, serta mulai untuk membicarakan masalah komputer tersebut. Penulis pernah mengajar kelas Internet hanya menggunakan satu komputer saja.
CATATAN :
Hampir semua supplier komputer di Indonesia akan melakukan install program apapun sesuai dengan permintaan, demi kepentingan agar komputer tersebut dibeli. Ini adalah salah satu alasan akan sangat pentingnya perencanaan matang mengenai tujuan pelatihan dalam rangka nantinya untuk mengetahui program apa saja yang diminta dan menghemat biaya program (software). Walaupun begitu saya akan merekomendasikan bahwa paling tidak 20 % (lebih disukai semuanya) dari komputer anda memiliki CD ROM drive jadi apabila program spesial yang diminta tetap, maka CD dapat dipergunakan.
Dari pengalaman kami di sekolah-sekolah kelihatannya kebutuhan printer di sekolah minimum 2 (dua).
Desain Dasar Laboratorium Komputer
Teknologi
Rabu, 31 Desember 2008
Jamaah Muslimin Siap Kirim 1000 Relawan ke Gaza
Written by Administrator
Tuesday, 30 December 2008 18:55
Berangkat dengan biaya sendiri, 200 di antaranya tenaga SAR berpengalaman. Tinggal menunggu lampu hijau dari pemerintah
Hidayatullah.com--Jamaah Muslimin (Hizbullah) telah menyiapkan 1000 relawan untuk dikirim ke Gaza, Palestina menyusul aksi brutal Yahudi Israel yang menewaskan 300-an orang di Jalur Gaza 27 Desember lalu.
Ketua Jamaah Muslimin (Hizbullah), Muhyiddin Hamidy mengatakan, keberangkatan para relawan itu tinggal menunggu lampu hijau pemerintah Republik Indonesia. “Ini tinggal tunggu persetujuan pemerintah,” ujarnya kepada para wartawan di Media Center, Gedung Dewan Pers, Jakarta, 30/12, pagi tadi.
Muhyiddin menambahkan, dari seribu relawan tadi, 200 di antaranya anggota Badan SAR Nasional yang sudah berpengalaman. Sisanya terdiri dari dokter dan tenaga medis, teknisi, dan tenaga-tenaga ahli lainnya. Biaya keberangkatan relawan ditanggung oleh Jamaah Muslimin dan anggota jamaahnya.
Untuk itu, Jamaah Muslimin kini tengah giat sejumlah pihak untuk membuka akses ke Gaza. Kata Muhyiddin, siang ini pihaknya mengirim surat ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah kantor kedutaan besar negara sahabat juga akan dikunjunginya guna meraup dukungan.
Muhyiddin mengatakan, kesedian Mesir membuka perbatasannya dengan Gaza akan sangat membantu kelancaran misi ini.
Muhyiddin mengatakan, Jamaah Muslimin mengapresiasi langkah yang dibuat Presiden SBY terhadap insiden Gaza dengan mendesak PBB untuk menindak Israel dan berjanji mengirimkan bantuan uang dan obat-obatan. Namun hal itu belum cukup, kata Muhyiddin.
Menurut Muhyiddin, sebenarnya dana untuk Palestina tidak pernah kurang. Isu Palestina adalah isu yang tak kurang untuk menggalang dana. Karena masalah ini bukan cuma umat Islam saja, tapi dunia,” katanya.
Untuk itu dia menekankan, masalah Palestina bukan cuma masalah Hamas dan bangsa Palestina saja, tapi juga masalah umat Islam seluruhnya. [sur/www.hidayatullah.com]
sejarah masuknya islam di indonesia
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).
Senin, 29 Desember 2008
Minggu, 28 Desember 2008
Berita Nasional
Jakarta, Kompas - Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengharuskan penetapan calon terpilih dengan sistem suara terbanyak berimplikasi pada keharusan untuk memikirkan ulang desain sistem pemilihan umum secara komprehensif, termasuk soal pemilu presiden dan pemilu kepala daerah.
Tujuan berpemilu harus ditentukan terlebih dahulu sebelum kemudian diracik sistem pemilu yang pas.
Formula penetapan calon terpilih dengan suara terpilih yang ditentukan oleh Mahkamah Konstitusi bukan jaminan akan menghasilkan parlemen yang lebih baik.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Didik Supriyanto di Jakarta, Jumat (26/12).
Didik menyebutkan, pertanyaan pokoknya adalah tujuan utama berpemilu antara representasi atau governabilitas.
Menurut dia, putusan Mahkamah Konstitusi tidak akan menghasilkan apa-apa karena yang berpotensi muncul adalah orang yang semata-mata mengandalkan popularitas atau kekuatan uang.
Parlemen berisiko menjadi kacau karena anggota yang bermasalah tidak bisa di-recall. Jika kemudian DPR tidak bermutu, kinerja presiden terpilih pun bakal terganggu karena politik transaksional berpotensi semakin merajalela.
Menurut Didik, ia bukan tidak setuju dengan penerapan sistem suara terbanyak untuk menentukan calon terpilih. Namun, formula tersebut harus diikuti dengan perubahan variabel teknis pemilu yang lain, seperti soal daerah pemilihan serta pencalonan dan pemberian suara. Perubahan yang parsial justru akan menghasilkan parlemen yang kacau dan korup.
Didik meragukan penerapan prinsip suara terbanyak akan meningkatkan akuntabilitas DPR terpilih. Pengalaman konkret dapat dilihat pada Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sekarang. Pemilih sulit mengontrol kinerja DPD. Sebaliknya, juga diragukan kerja DPD dalam mengurusi kemauan konstituennya.
Kehilangan arti
Secara terpisah, pengajar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Hasyim Asy’ari, di Semarang menyebutkan, putusan Mahkamah Konstitusi itu membuat metode pemberian suara dan juga desain surat suara seperti ”kehilangan arti”.
Jika suara terbanyak yang dipergunakan, mestinya hanya ada nama calon di surat suara. Juga, akan muncul persoalan baru jika jumlah pemilih yang memberikan suaranya dengan memilih tanda atau nomor urut parpol lebih banyak.
Wakil Sekjen Partai Persatuan Pembangunan M Romahurmuziy di Jakarta menyatakan, partainya akan menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi itu dengan mencegah adanya kesepakatan internal untuk ”mengakali” cara penetapan calon terpilih.
Romahurmuziy menyebutkan, putusan Mahkamah Konstitusi itu berpotensi menjadikan parlemen diisi hanya oleh tokoh dengan kemampuan finansial dan logistik yang kuat atau tokoh yang luar biasa mengakar di konstituennya.
Peraturan KPU
Terkait putusan Mahkamah Konstitusi, pemerintah tidak akan mengeluarkan peraturan pemerintah.
Menurut Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, KPU harus mengeluarkan peraturan KPU. ”Keputusan Mahkamah Konstitusi itu final. Artinya, tinggal KPU yang menindaklanjutinya dengan dibatalkannya UU Pemilu. Pemerintah tidak akan mengeluarkan PP (peraturan pemerintah), sebaliknya KPU yang harus mengeluarkan peraturan KPU,” ujar Kalla, yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar, seusai memberikan keterangan akhir tahun di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Jumat.
Menurut Kalla, peraturan yang harus dikeluarkan KPU adalah peraturan mengenai tata cara penentuan caleg yang mendapat suara terbanyak dan harus terpilih menjadi anggota legislatif yang baru.
Di Brebes, Jawa Tengah, KPU Kabupaten Brebes mendapat keluhan dan pertanyaan dari sejumlah pengurus parpol maupun caleg terkait keputusan Mahkamah Konstitusi.
Ketua KPU Kabupaten Brebes, Mahfudin, Jumat, mengatakan, pengurus parpol yang mempertanyakan keputusan itu berasal dari parpol yang memiliki kebijakan intern menentukan caleg terpilih berdasarkan nomor urut. Sedangkan para caleg yang mempertanyakan keputusan itu umumnya caleg dengan nomor urut terkecil. (DIK/WIE/HAR)
Sabtu, 20 Desember 2008
Pentingnya Pendidikan Sex Pada Remaja
Ada tiga institusi yang akan mempengaruhi pribadi dan tingkah laku seorang anak yaitu keluarga, masyarakat maupun sekolah. Tiga institusi ini tidak bisa dipisahkan satu-sama lainnya dalam mempengaruhi kepribadian maupun perilaku seseorang. Karena begitu kuat dan pentingnya ketiga institusi tersebut dalam mempengaruhi tingkah laku seseorang maka walaupun tidak sepenuhnya benar ada pepatah mengatakan bahwa " kalau ingin melihat bagimana kondisi keluarga, masyarakat dan sekolah yang ada maka lihat bagaimana perilaku yang ditampilkan oleh anggota masyarakatnya".
Pepatah tersebut menggambarkan betapa besar peranan keluarga, masyarakat dan sekolah dalam mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku seseorang. Karena perilaku seseorang yang dalam hal ini para remaja sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka memahami tentang berbagai hal yang mereka hadapi dalam kehidupannya.
Berbagai potensi yang mereka miliki akan tumbuh dan berkembang secara optimal dan akan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya yang ada di dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah.
1. Keluarga
Keluarga merupakan institusi pertama dimana seseorang akan mengenal bermacam-macam nilai sosial yang ada. Keluarga, akan menjadi tempat berlangsungnya proses sosialisasi dan internalisasi nilai dan beragam ketrampilan dasar dalam hidup seseorang. Sehingga jika proses sosialisasi dan internalisasi nilai berlangsung dengan baik maka kepribadian anak akan menjadi mantap.
Oleh karena itu keluarga menjadi tempat pertama seorang anak mengenal nilai - nilai yang ada dimasyarakat maka peran orang tua dan anggota keluarga yang lain menjadi sangat menentukan dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak. Qrang tua akan menjadi patron dan referensi pertama oleh anak dalam melakukan tindakan tertentu. Maka orang tua akan selalu dijadikan rujukan dan teladan bagi anak dalam bertingkah 1aku, karena seorang anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan kepribadian akan cenderung meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
Karena begitu pentingnya peran keluarga dalam membentuk pribadi dan perilaku seorang anak, maka orang tua harus bisa menjadi idola anak, tempat anak bertanya berbagai hal yang anak ingin ketahui dalam hidupnya, dan sebagai tempat terjadinya transformasi dan pewarisan berbagai macam nilai- nilai kehidupan.
Termasuk dalam kaitannya tentang pendidikan sex, keluarga mempunyai peran yang sangat besar walaupun dalam batas-batas tertentu dalam memberikan pemahaman tentang seksualitas anak. Pemahaman tentang seksualitas anak pertama kali akan didapatkan dari keluarga walaupun dalam tataran yang paling minimal. Paling tidak perbedaan fisik alat kelamin antara yang dimiliki oleh anak laki- laki dengan anak perempuan.
Karena anak itu paling lama berinteraksi dengan anggota keluarganya, maka orang tua maupun saudara-saudaranya yang lebih dewasa harus bisa memberikan jawaban yang benar tentang seksualitas kepada anak atau adiknya yang bertanya. Dan juga orang dewasa harus mau menegur dan mengingatkan jika ada anak maupun adiknya yang sekiranya mempunyai pemahaman yang keliru tentang persoalan seksualitas. Sehingga persepsi yang keliru itu bisa segera diluruskan paling tidak bisa dijelaskan duduk persoalannya. Disinilah peran dan posisi orang tua menjadi sangat penting dalam memberikan teladan dan contoh yang benar kepada anaknya.
Karena penyimpangan perilaku yang ditunjukkan oleh sebagian remaja atau anak kita bisa jadi terjadi perbedaan persepsi khususnya pada anak atau remaja terhadap berbagai hal yang menyangkut kehidupan seksualitasnya, misalnya terjadinya perbedaan persepsi remaja tentang seksualitas, pacaran , kehamilan, dan perkawinan. Persepsi masing-masing seseoarang khususnya anak remaja tentang pacaran, hubungan seksual, kehamilan, pernikahan maupun tentang keluarga akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial, budaya, agama, pendidikan maupun pengalaman hidup yang mereka miliki.
Persepsi terhadap berbagai hal yang menyangkut kehidupan mereka itulah, yang akan membentuk sikap dan perilaku mereka, apakah mereka akan melanggar norma yang ada atau tidak. Oleh karena itu peran keluarga dalam membentuk persepsi, sikap dan perilaku anak sangat menentukan, sehingga peran orang tua. dan orang dewasa yang ada dalam keluarga untuk bisa menjadi figur teladan maupun yang menjadi rujukan ana.kdalam bertingkah laku akan menjadi sangat penting sekali.
2. Masyarakat
Disamping keluarga, kepribadian dan perilaku anak juga sangat dipengaruhi oleh masyarakat. Dari masyarakatlah anak akan belajar tentang berbagai nilai yang ada, karena dimasyarakatlah anak akan berinteraksi dengan berbagai macam orang dengan latar belakang sosial, budaya, agama , pendidikan maupun pengalaman hidup yang berbeda-beda.
Anak mungkin akan menemukan suatu pengalaman yang baru yang tidak dijumpai dalam keluarganya. Sehingga sesuatu yang baru itu tentunya akan menjadi bagian dari pemahaman anak terhadap lingkungan sosialnya. Berbagai macam pengetahuan baru yang mereka miliki dari teman-temannya, bacaan-bacaan, telivisi maupun berbagai macam media yang ada di masyarakat akan menjadi bagian pengalaman dalam hidupnya, termasuk pengetahuan mereka tentang seksualitas maupun reproduksi.
Seberapa jauh pengaruh pengalaman - pengalaman baru yang diperoleh dari masyarakat itu akan mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku seseorang akan sangat ditentukan oleh seberapa besar anak tersebut sudah mempunyai pemahaman awal yang mereka peroleh dari keluarga, daya seleksi dan kritis terhadap pengalaman baru yang mereka peroleh dari masyarakat
Oleh karena setiap anak itu mempunyai bekal awal yang berbeda tentang berbagai hal, misalnya masalah seksualitas dan reproduksi sehat dari keluarganya, serta karena setiap orang mempunyai daya seleksi dan kekritisan yang berbeda, dan juga sudah menjadi sifat anak atau remaja kalau mereka itu punya kecenderungan suka meniru terhadap apa yang dilihat dan didengar maka masyarakat dituntut juga harus bertanggung jawab dan berusaha untuk bisa memberikan pengalaman yang benar sesuai dengan nilai¬-nilai yang berlaku didalam masyarakat terhadap anak atau remaja yang menjadi bagian dari masyarakatnya.
Sehingga tidak terjadi konflik psikologis pada diri anak atau remaja tentang apa yang telah diketahui datam keluarga dengan apa yang terjadi pada masyarakat, anak harus mendapatkan pemahaman yang sinkron tentang sesuatu nilai antara yang didapatkan dari keluarga dengan apa yang diperoleh didalam masyarakat.
Pemahaman anak tentang seksualitas maupun reproduksi sehat harus sinkron antara apa yang diketahui dari keluarga dengan apa yang diketahui dari masyarakat. Jangan sampai saling kontradiktif, misalnya dalam perilaku berpacaran anak remaja, mungkin dirumah orang tua mengajarkan tentang norrna berpacaran bahwa yang namanya mencium lawan jenisnya yang bukan muhrimnya itu dilarang 0leh agama , sehingga tidak boleh dilakukan, tetapi setelah diluar anak remaja tersebut setiap hari dihadapkan atau melihat balk dilayar kaca dalam sinetron maupun dijalan anak-anak yang bukan muhrimnya saling berciuman dengan bebas, kalau berboncengan megangnnya seperti layaknya suami istri dan lain-lain. Kondisi ini tentunya akan menjadi sesuatu yang membingungkan bagi anak remaja tersebut.
Agar anak mempunyai pemahaman yang benar maka masyarakat dengan berbagai unsur yang membentuk masyarakat harus bisa memberikan contoh-contoh perilaku yang benar sesuai dengan norma yang berlaku didalarn masyarakat, media massa, maupun telivisi juga harus mau menampilkan tayangan-tayangan yang memberikan contoh yang benar, yang tidak provokatif tidak merangsang anak remaja untuk melanggar norma yang ada.
3. Sekolah
Institusi ketiga yang ikut berperan dalam membentuk kepribadian dan perilaku anak adalah sekolah. Institusi sekolah merupakan tempat terjadinya transformasi ilmu rpengetahuan maupun nilai-nilai yang berlaku didalam masyarakat. DI dalam sekolah pula akan terjadi proses pewarisan budaya dan penyebaran budaya secara sistematis dan terprogram.
Oleh karena fungsi keluarga sebagai tempat terjadinya transformasi pengetahuan , }eknologi dan nilai maka keberadaannya menjadi sangat penting di tengah masyarakat. 1Karena proses pewarisan, transformasi maupun prases penyebaran beragam pengetahuan, teknologi, budaya berlangsung secara sistematis dan terprogram maka pengalaman yang akan diperoleh oleh anak juga akan relatif sistematis, terprogram dan terukur.
Dengan demikian agar pemahaman anak tentang seksualitas maupun reproduksi yang sehat itu benar, maka peran sekolah sangat penting dan strategis. Karena pengetahuan yang akan diperoleh oleh anak sudah seragam, sistematis. Namun masalahnya pada bagaimana teknisnya agar pemahaman tentang seksualitas dan reproduksi sehat itu tidak justru memprovokasi siswa untuk coba-coba.
Pada dasarnya penulis sepakat bahwa pendidikan sex dan juga reproduksi sehat perlu dipahami oleh semua anak. Karena melalui sekolah pemahaman tentang sexsualitas dan reproduksi yang sehat akan lehih jelas, sistematis dan terprogram. Karena perlu juga dipahami bahwa pendidikan sex tidak hanya terkait dengan masalah alat kelamin, da hubungan sexual semata, namun juga menyangkut pola hubungan antara oran.g yang lain jenis, kehamilan, norma maupun penyakit yang mungkin timbul akibat hubungan sexual yang tidak benar.
Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana teknis pelaksanaannya apakah pendidikan sex dan reproduksi sehat itu dimasukkan dalam program kurikulum muatan lokal atau dalam pegembangan diri dalam ekstraurikuler. Kalau masuk dalam ekstra kurikuler maka sifatnya hanya pilihan dan bisa dikaitkan dalam bidang yang lain. Kalau masuk dalam intrakurikuler ada beberapa hal yang perlu disiapkan terlebih dahulu agar program pendidikan sex dan reproduksi sehat ini bisa mencapai sasaran maka perlu dipersiapkan terlebih dahulu dari aspek :
• Kurikulumnya yang meliputi:
standar kompetensinya dan kompetensi dasarnya,
siapa gurunya,
berapa waktu yang disediakan
bagaimana metodenya
bagaimana media yang digunakan
bagaimana sistem penilaiaanya
bagaimana sarana dan prasarananya
Dari sisi lain yang juga perlu dipersiapkan ádalah Apakah anak sudah siap secara psikologis maupun fisiologis dan juga apakah masyarakat sudah siap menerima kenyataan bahwa kehidupan pribadi orang dewasa dibicarakan secara terbuka.
Disamping aspek kurikulum, guru, siswa, masyarakat juga perlu dipikirkan sarana pendukung misalnya buku paket. Hal - hal seperti ini harus dipikirkan terlebih dahulu karena pada dasarnya tingkat perkembangan psikologis anak remaja berbeda dengan orang dewasa misalnya mahasiswa sehingga harus dipertimbangkan dan dipersiapkan yang matang agar program pendidikan ini justru menjadi bumerang bagi kehidupan anak karena tergesa-gesa karena tuntutan modernisasi kesalahan dalam mendesainnya.
Akhirnya penulis berkesimpulan bahwa pendidikan sex maupun reproduksi sihat pada dasarnya perlu untuk anak remaja, dan penyampaiannya itu menjadi tanggungjawab keluarga, masyarakat dan sekolah. Karena kelebihannya yang dimiliki oleh sekolah maka sekolah mempunyai peran yang strategis dalam menyampaikan pendidikan sex dan reproduksi sehat ini kepada anak, namun dalam implementasinya perlu dipesiapkan secara matang tentang kesiapan kurikulum, guru, siswa, masyarakat maupun saranya pendukung yang lainnya. Semoga kita terburu-buru agar tidak keliru.
Minggu, 14 Desember 2008
KUNCI PENGETAHUAN
"Sebenarnya kunci ilmu pengetahuan itu merupakan Sesuatu hal yang telah kita ketahui baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja, baik yang secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan kita sehari-hari"Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.Selain pengetahuan empiris, ada pula pengetahuan yang didapatkan melalui akal budi yang kemudian dikenal sebagai rasionalisme. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi.
Pengetahuan tentang keadaan sehat dan sakit adalah pengalaman seseorang tentang keadaan sehat dan sakitnya seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut bertindak untuk mengatasi masalah sakitnya dan bertindak untuk mempertahankan kesehatannya atau bahkan meningkatkan status kesehatannya. Rasa sakit akan menyebabkan seseorang bertindak pasif dan atau aktif dengan tahapan-tahapannya.
